Feeds:
Tulisan
Komentar

ALUMNI SMA 2 SRAGEN TH 88

ALUMNI SMA 2 SRAGEN TH 88

SK PEMB. TUGAS DI SEKOLAH

PEMERINTAH KABUPATEN SRAGEN
DINAS PENDIDIKAN
SMP NEGERI 1 KARANGMALANG
Jl. Bratasena. Karangmalang. Telp. ( 0271 ) 891878
KARANGMALANG 57291

SURAT KEPUTUSAN

KEPALA SMP NEGERI 1 KARANGMALANG
DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN SRAGEN
Nomor : 423.5 / 219 / 281 / 2011
TENTANG
PEMBAGIAN TUGAS GURU MATA PELAJARAN DALAM PROSES BELAJAR MENGAJAR/GURU PEMBIMBING/TUGAS TAMBAHAN/EKSTRA KURIKULER PADA SEMESTER GASAL
TAHUN PELAJARAN 2011- 2012

Menimbang : Bahwa dalam rangka memperlancar proses Belajar Mengajar di SMP Negeri 1 Karangmalang, Kabupaten Sragen perlu menetapkan pembagian tugas guru.

Mengingat : 1. Undang – Undang Nomor : 20 Tahun 2003
2. Peraturan Pemerintah Nomor : 29 Tahun 1990
3. Keputusan Menpan Nomor : 84 / 1993
4. Surat Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan kepala BAKN Nomor : 0433 / P / 1993, Nomor : 25 Tahun 1993
5. Keputusan Mendikbud Nomor : 025 / 0 1995
6. Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Propinsi Jawa Tengah tentang Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2011-2012
7. Permendiknas No. 39 Th. 2009 tentang Pemenuhan Beban Kerja Guru dan Pengawas Satuan Pendidikan.
8. UU No. 15 Th 2005 tentang Guru dan Dosen.
9. PP No. 74 Th 2008 tentang Guru.
10. PP No. 41 Th 2009 tentang Tunjangan Profesional Guru dan Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen & Tunjangan Kehormatan Profesi.
11. Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Guru dan Pengawas Ditjen PMPTK Depdiknas tahun 2009.

Memperhatikan : Rapat Dinas Pembagian Tugas Semester Gasal Tanggal 1 Juli 2011 di SMP Negeri 1 Karangmalang

MEMUTUSKAN
Menetapkan
Pertama : Pembagian tugas guru dalam kegiatan proses belajar mengajar dan bimbingan, serta tugas lain ersebut pada lampiran I, II, III, IV, dan V
Kedua : Masing – masing guru melaporkan pelaksanaan tugasnya secara tertulis dan berkala kepada Kepala Sekolah
Ketiga : Segala biaya yang timbul akibat pelaksanaan keputusan ini dibebankan pada anggaran yang sesuai.
Keempat : Dalam surat keputusan ini apabila terdapat kekeliruan akan dibetulkan sebagaimana mestinya.
Kelima : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Karangmalang, Sragen
Pada Tanggal : 1 Juli 2011
Kepala Sekolah

Drs. JOKO PARJONO, M.M.
NIP. 19601213 198703 1 014
Tembusan :

1. Yth. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen
2. Yth. Pengawas Bidang Dikmenum Wilayah Kab. Sragen
3. Yth. Sdr ……………………………..
Guru SMP Negeri 1 Karangmalang.

7. Jadwal Kegiatan
No. Waktu Kegiatan
1 18 April – 26 Mei 2011 Pendaftaran
2 30 Mei 2011 Tes Akademik
3 31 Mei 2011 Tes Psikologi
4 1 Juni 2011 Tes Wawancara
5 6 Juni 2011 Pengumuman
6 8 – 10 Juni 2011 Daftar Ulang
8. Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar mengacu pada desain yang telah direncanakan, dari kurikulum sampai dengan evaluasi.
PRESTASI SMP 1 Karangmalang
1. Juara I Lomba Menulis Cerita Film TK,SMP Kab Sragen Th 2010
2. Juara III Olimpiade Matematika Tkt SMP
3. Juara III Bola Volly Tingkat Propinsi
4. Juara I Lomba Karya Ilmiah pelajar Jumbara Madya PMR
5. Mewakili Kab. Sragen Lomba IPS TK Prop.
PERINGKAT UJIAN NASIONAL
Tahun Pelajaran Peringkat
Kabupaten
2006/2007 10
2007/2008 7
2008/2009 5
2009 / 2010 Tidak dirangking dinas
VISI:
Unggul dalam prestasi, terampil dalam berkarya, dan santun dalam budi pekerti
MISI:
1. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif untuk meraih prestasi.
2. Mengembangkan keterampilan siswa sesuai minat bakat.
3. Mewujudkan pengamalan ajaran agama dan budaya bangsa.

Laboratorium IPA dan Ruang Multimedia

Karangmalang, 24 Februari 2011
Kepala SMPN 1 Karangmalang

Drs. Joko Parjono, MM
NIP. 19601213 198703 1 014

SMP NEGERI 1 KARANGMALANG SRAGEN
SEKOLAH STANDAR NASIONAL

MENUJU PERSIAPAN RINTISAN SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL

Penerimaan Peserta Didik Baru
Membuka “Kelas Bilingual”
(Bilingual Class)
Tahun Pelajaran 2011-2012

Jl. Bratasena No. … Kroyo Karangmalang Sragen
Telp. 0271-891878 Kode Pos 57291
Website: smpn1karangmalang.sch.id

DASAR-DASAR PPDB SMP NEGERI 1 KARANGMALANG TAHUN PELAJARAN 2011-2012
1. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 No. 78, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301),
2. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2003 tentang Standar Nasional Pendidkan,
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI),
4. Surat Keputusan Direktorat Jendral Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah No. 0015/C3/KP/2010 tentang Pemberitahuan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

MEKANISME PENDAFTARAN
1. Waktu dan Tempat Pendaftaran:
- Pendaftaran tanggal 18 April s.d. 26 Mei 2011.
- Pukul 08.00 – 13.30 WIB.
- Tempat: SMP Negeri 1 Karangmalang.
2. Syarat Pendaftaran:
- Mengisi formulir pendaftaran.
-Menyerahkan foto copy raport kelas V dan VI semester gasal yang dilegalisir.
- Menyerahkan foto copy akte kelahiran 1 lembar.
-Menyerahkan pasfoto terbaru ukuran 3 x 4 cm sebanyak 3 lembar.
- Menyerahkan surat keterangan sehat dari dokter.
-Menyerahkan piagam/sertifikat kejuaraan perorangan (jika punya)
-Surat Kelakuan Baik dari Kepala Sekolah Dasar.
-Surat Keterangan sebagai siswa di Sekolah Dasar dari Kepala Sekolah Dasar.
3. Sistem Seleksi:

a. Seleksi Administrasi:
- Seleksi Raport SD/MI kelas 5, 6.
- Seleksi dilakukan dengan cara menyusun ranking nilai rapot 3 Mapel (Matematika, IPA, Bahasa Indonesia) dengan nilai rata-rata = 7,00, ditambah piagam/sertifikat kejuaraan.
- Bagi calon siswa yang lolos seleksi administrasi berhak mengikuti seleksi tahap berikutnya.
- Biaya Pendaftaran Rp. 75.000,00 (Tujuh puluh lima ribu rupiah).

b. Seleksi Akademis
- Meliputi mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan Bahasa Inggris kelas V dan VI.
- Bentuk soal pilihan ganda.
- Pelaksanaan tes tanggal 30 Mei 2011; jam 13.00 – 15.30 WIB.
- Tempat: SMP Negeri 1 Karangmalang.

c. Tes Psikologi
- Tes mengungkap kemampuan dasar calon siswa (IQ)
- Tes psikologi bekerja sama dengan lembaga/ahli yang terpilih.
- Hasil tes psikologi menjadi pertimbangan dalam penerimaan calon siswa baru.
- Pelaksanaan tes psikologi tanggal 31 Mei 2011; Jam 13.00 WIB – selesai.
- Tempat di SMP Negeri 1 Karangmalang.
- IQ minimal untuk bisa mengikuti pembelajaran Kelas Unggulan Bilingual adalah 115 (berdasarkan tes IQ yang dilaksanakan oleh team ahli psikologi).

d. Wawancara
- Wawancara dilaksanakan oleh panitia.
- Wawancara dilakukan oleh panitia dengan calon siswa dan orangtua calon siswa.
- Wawancara dengan calon siswa dilakukan dengan bilingual (2 bahasa; Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris).
- Pelaksanaan wawancara tanggal 1 Juni 2011; Jam 13.00 WIB – selesai.

e. Scoring (Pembobotan Penilaian)
- Tes Akademis
- Tes IQ (Psikotest)
- Wawancara Bilingual
- Bonus Kejuaraan Akademis
4. Pengumuman Calon Siswa yang Diterima
Pengumuman calon siswa baru Unggulan Bilingual SMP Negeri 1 Karangmalang pada tanggal 6 Juni 2011 di SMP Negeri 1 Karangmalang Pukul 11.00 WIB.
5. Pendaftaran Ulang
Pendaftaran ulang calon siswa baru Unggulan Bilingual SMP Negeri 1 Karangmalang pada tanggal 8 s.d. 10 Juni 2011 pada jam kerja di SMP Negeri 1 Karangmalang.
6. Daya Tampung
2 (dua) Kelas, masing-masing kelas 24 siswa.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Guru adalah agen pembelajaran yang harus memiliki empat jenis kompetensi, yaitu, kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial. (bunyi Pasal 28 PP No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan).
Penguasaan empat kompetensi tersebut mutlak harus dimiliki setiap guru untuk menjadi tenaga pendidik yang profesional seperti yang disyaratkan Undang-Undang Guru dan Dosen. Kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya.
Tanpa bermaksud mengabaikan salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang guru, kompetensi kepribadian kiranya harus mendapatkan perhatian yang lebih. Sebab, kompetensi ini akan berkaitan dengan idealisme dan kemampuan untuk dapat memahami dirinya sendiri dalam kapasitas sebagai pendidik.
Mengacu kepada standar nasional pendidikan, kompetensi kepribadian guru meliputi, (1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang indikatornya bertindak sesuai dengan norma hukum, norma sosial. Bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma. (2) Memiliki kepribadian yang dewasa, dengan ciri-ciri, menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik yang memiliki etos kerja. (3) Memiliki kepribadian yang arif, yang ditunjukkan dengan tindakan yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak. (4) Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki perilaku yang disegani. (5) Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan, dengan menampilkan tindakan yang sesuai dengan norma religius (iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki perilaku yang diteladani peserta didik.
Esensi kompetensi kepribadian guru semuanya bermuara ke dalam intern pribadi guru. Kompetensi pedagogik, profesional dan sosial yang dimiliki seorang guru dalam melaksanakan pembelajaran, pada akhirnya akan lebih banyak ditentukan oleh kompetensi kepribadian yang dimilikinya. Tampilan kepribadian guru akan lebih banyak memengaruhi minat dan antusiasme anak dalam mengikuti kegiatan pembelajaran. Pribadi guru yang santun, respek terhadap siswa, jujur, ikhlas dan dapat diteladani, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan dalam pembelajaran apa pun jenis mata pelajarannya.
Oleh karena itu, dalam beberapa kasus tidak jarang seorang guru yang mempunyai kemampuan mumpuni secara pedagogis dan profesional dalam mata pelajaran yang diajarkannya, tetapi implementasinya dalam pembelajaran kurang optimal. Hal ini boleh jadi disebabkan tidak terbangunnya jembatan hati antara pribadi guru yang bersangkutan sebagai pendidik dan siswanya, baik di kelas maupun di luar kelas.
Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar.
Untuk itulah makalah ini disusun sebagai bahan kajian bagi guru atau pendidik agar dapat berperilaku dan bersikap profesional dalam menjalankan tugas mulia ini, sehingga tugas pokok fungsi guru akan terwujud nyata.

1.2. Masalah
Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini adalah bagaimana guru yang profesional beretika dan berkepribadian yang luhur.

1.3. Tujuan Penulisan Makalah
Makalah ini diharapkan dapat menghasilkan suatu pemahaman kepribadian dalam mewujudkan guru profesional yang beretika luhur, agar dapat terwujud kompetensi guru yang sesuai dengan tujuan undang-undang sistem pendidikan nasional.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Etika
Secara etimologis etika berasal dari kata Yunani, yaitu ethikos. Kata Yunani ethos dalam bentuk tunggal mempunyai banyak arti, namun dalam bentuk jamak (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Kata etika ini telah dipakai oleh filsuf Yunani besar Arirtoteles (384-322 SM) sudah dipakai untuk menunjukan sifat moral. Maka kata etika berarti: ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988) etika dijelaskan dengan membedakan tiga arti :
1. ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak);
2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;
3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.
Secara terminologi etika diartikan sebagai, “That study or discipline which concerns itself with judgements of approval and disapproval, judgments as to the rightness or wrongness, goodness or badness, virtue or vice, desirability or wisdom of actions, dispositions, ends, objects, or states of affairs (Meta-Encyclopedia of Philosophy, 2007).”—Studi atau disiplin yang menyangkut dengan penilaian akan diijinkan atau tidak diijinkan, penilaian mengenai kebenaran dan kesalahan, kebaikan dan keburukan, sifat baik dan sifat buruk, sifat disenangi atau kebijakan perbuatan, watak, tujuan, objek, atau keadaan.
Etika adalah sebuah refleksi kritis dan rasional mengenai nilai dan norma moral yang menentukan dan terwujudnya dalam sikap dan pola perilaku hidup manusia, baik secara pribadi maupun sebagai kelompok
Etika hanya membicarakan segala perbuatan yang berkaitan dengan manusia. Karenanya ruang lingkup etika hanya berkutat pada manusia. Dengan demikian, etika juga berurusan kepada persoalan manusia sebagai manusia.
2.1.1. Standar etika
Guru yang beretika luhur dapat diukur dari berbagai jajaran norma antara lain; norma moral, norma religius, norma hukum, norma kesopanan, dan norma adat istiadat. Oleh karena itu guru harus siap mengorbakan kebebasannya. Yang dimaksud kebebasan disini adalah berbuat sekehendak hatinya terlepas dari aturan-aturan yang berlaku di dalam kehidupannya sebagai makhluk sosial dan individu. Idealnya guru profesional harus sudah teruji dalam segi rela berkorban khususnya demi kepentingan anak didiknya, dan umumnya untuk kepentingan masyarakat luas lainnya.
2..1.2. Indikator etika
Etika berbeda dengan norma hukum. Sekalipun sudah ada norma hukum, etika tetap diperlukan. Norma hukum tidak menjangkau wilayah etika, tetapi sebaliknya etika dapat menjangkau wilayah norma hukum.
Seorang guru tidak hanya harus taat pada norma hukum yang ada sanksinya secara jelas, tetapi juga harus taat pada etika yang walaupun tidak ada sanksinya yang tertera jelas seperti norma hukum. Disinilah pentingnya guru yang profesional juga dituntut untuk memiliki etika yang luhur. Maka indikatornya adalah segala bentuk hasil rasa, cipta dan karsa apapun sifatnya dari seorang guru harus memiliki citraan yang positip di mata orang lain, apalagi dihadapan murid-muridnya.
2.1.3. Alat ukur etika
Secara rasional ukura etika seorang guru dilihat dari kenyataan dia berperilaku dan bukan bersifat sesuatu yag abstrak. Hal itu dapat diamati dan diukur mulai dari lingkup terkecil sampai pada lingkup yang besar, mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat dan lingkungan dimana dia bekerja.
Pertama, guru adalah bagian dari lingkungan keluarga, berarti dia harus mampu pula menjadi contoh atau teladan bagi anggota keluarga lainnya.
Kedua, guru adalah bagian dari lingkungan sosial masyarakat, berarti dia harus mampu pula menjadi contoh atau teladan bagi sekelompok masyarakat lainnya yang bermukim bersamanya.
Ketiga, guru adalah bagian dari sebuah lembaga atau institusi dimana dia bekerja, sehinga diapun harus mampu menjadi pendidik dan bukan sekedar pengajar disebuah lembaga yang khusus membidangi dunia pendidikan khususnya dan pengetahuan umumnya. Maka dalam hal ini dia sangat berperan mutlak untuk membentuk generasi muda penerus bangsa yang beretika dan berkepibadian yang luhur.

2.2. Kepribadian
Menurut Allport, kepribadian adalah “sebuah organisasi dinamis di dalam sistem psikis dan fisik individu yang menentukan karakteristik perilaku dan pikirannya”. Sedangkan menurut Pervin dan John, kepribadian mewakili karakteristik individu yang terdiri dari pola-pola pikiran, perasaan dan perilaku yang konsisten.
Senada dengan pengertian diatas, makna dari kata ”kepribadian” adalah n, sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang atau suatu bangsa yang membedakan dirinya dari orang atau bangsa lain.
2.2.1. Standar kepribadian
Kepribadian dapat memunculkan berbagai macam bentuk karakter manusia. Ini dipengaruhi oleh berbagai hal baik itu dari dalam maupun dari luar dirinya.Standar kepribadian guru lebih dipengaruhi oleh faktor dari dalam walaupun faktor luar juga banyak mempengaruhinya.
Walaupun bersifat topeng, kepribadian dapat dideteksi dari berbagai hasil tingkah laku yang dihasilkan oleh seorang guru. Guru tidak selayaknya jika menjadikan kepribadian itu topeng semata. Akan tetapi harus bisa menjadikan kepribadian itu sebagai standar dia sebagai pendidik dan pengajar untuk murid-muridnya. Kepribadian harus distandarkan sesuai peranannya sebagai agen pembaharu untuk mental generasi muda yang bisa diharapkan oleh generasi tua.
Membentuk kepribadian yang luhur dan mulia tidak semudah membalik telapak tangan. Membentuk pribadi yang luhur juga bukan hal yang sulit bagi seorang guru jika dia menyadari betapa pentingnya nilai kepribadian itu untuk melahirkan lagi benih-benih pribadi yang luhur lagi untuk murid-muridnya.
2.2.2. Indikator kepribadian
Peranan guru ditempatkan pada posisi yang sangat mulia sesuai dengan profesinya. Oleh karena itu cara yang baik agar guru dapat memiliki kepribadian luhur dapat dilihat dari sebuah indikator yaitu dia itu sebagai sosok riil atau sebagai sosok yang bertopeng dalam penampilannya. Sebuah topeng akan muncul untuk menutupi keburukan dari pribadinya yang sesungguhnya, namum bilamana sosok guru sudah berkepribadian baik, dia akan lebih jelas dalam pola menampakan pribadinya yang nyata secara utuh tanpa harus melahirkan topeng-topeng untuk menutupi kekurangannya. Adalah bukan lagi tantangan untuk mengetahui dan memiliki kepribadian yang mantap, tetapi sudah merupakan tututan bagi seorang guru di era ilmu pengetahuan ini.

2.2.3. Alat ukur kepribadian
Semakin berkepribadian, semakin profesional seorang guru. Ukuran ini dapat dilihat dari empat kompentsi guru yang dituntut dalam 28 PP No. 19 Tahun 2005, tentang Standar Nasional Pendidikan. Karena profesionalisme menuntut sosok pribadi yang berkepribadian luhur dan mulia. Guru yang profesional berangkat dari kepribadinnya yang tulus, utuh, bukan topeng semata. Tidak mungkin guru yang profesional dapat memanfaatkan keprofesionalnya untuk murid-muridnya jika dia tidak memiliki kepribadian yang utuh, luhur dan mulia. Tingkat profesional seorang guru dapat pula diamatai dari tingkat kepribadiannya dalam berperilaku dengan sesama.

2.3. Ranah nilai etika dan kepribadian terhadap kompetensi sosial personal guru
Etika dan kepribadian yang luhur akan melahirkan 2 nilai yaitu; nilai memberi (value of giving) dan nilai nurani (value of being). Adapun dari dua nilai itu akan melahirkan dua kekuatan yang berbeda.
Nilai memberi memiliki kekuatan untuk bersifat; 1) setia, dapat dipercaya, 2) hormat, 3) cinta kasih sayang, 4) peka, tidak egois, 5) Ramah, baik hati, dan 6) adil, murah hati.
Sedangkan nilai nurani melahirkan sosok yang memiliki; 1) kejujuran, 2) keberania, 3) sifat cinta damai, 4) potensi diri, 5) disiplin, tahu batas, dan 6) kemurnian, kesucian.
Semakin luas nilai yang dimiliki seorang guru semakin luas pula tingkat etika dan kepribadiannya. Korelasi antara nilai memberi dan nurani sangat erat.
Kejujuran seseorang akan melahirkan kesetiaan dan dapat dipercaya; Keberanian juga akan melahirkan rasa hormat; Rasa cinta damai akan mudah mewujudkan rasa cinta, kasih sayang.
Nilai etika dan kepribadian seseorang akan semakin stabil, jika semakin banyak nilai-nilai yang dipahami dan dilakukan.
Nilai-nilai memberi dan nilai nurani besar perannya terhadap kompetensi sosial personal guru. Ukuran nilai kompetensi sosial personal guru diperkaya oleh value of giving dan value of being.

2.4. Profesionalisme guru, etika dan kepribadian
Profesionalisme menjadi taruhan ketika mengahadapi tuntutan-tuntutan pembelajaran demokratis karena tuntutan tersebut merefleksikan suatu kebutuhan yang semakin kompleks yang berasal dari siswa; tidak sekedar kemampua guru mengauasi pelajaran semata tetapi juga kemampua lainnya yang bersifat psikis, strategis dan produktif. Tuntutan demikian ini hanya bisa dijawab oleh guru yang professional.
Istilah professional berasal dari profession, yang mengandung arti sama dengan occupation atau pekerjaan yang memerlukan keahlian yang diperoleh melalui pendidikan atau latihan khusus. Ada beberapa pengertian yang berkaitan dengan professionalisme yaitu okupasi, profesi dan amatif. Terkadang membedakan antar para professional, amatir dan delitan. Maka para professional adalah para ahli di dalam bidangnya yang telah memperoelh pendidikan atau pelatihan yang khusus untuk pekerjaan itu.
Untuk memahami profesi, kita harus mengenali melaui Ciri-cirnya. Adapun ciri-ciri dari suatu profesi adalah:
- memiliki suatu keahlian khusus
- memiliki teori-teori yang baku secara universal
- mengabdikan diri untuk masyarakat dan bukan untuk diri sendiri
- dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi yang aplikatif
- memiliki otonomi dalam melaksanakan pekerjaannya
- mempunyai kode etik
- mempunyai klien yang jelas
- mempunyai organisasi profesi yang kuat

2.4.1. Merunut tentang profesionalisme gurul, etika dan kepribadian.
1. Merunut UU 14/2005:
BAB I. KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
BAB II. KEDUDUKAN, FUNGSI, DAN TUJUAN
Pasal 2
(1) Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal yangdiangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
(2) Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan sertifikat pendidik.
Pasal 4
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Pasal 6
Kedudukan guru dan dosen sebagai tenaga profesional bertujuan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.
2. Merunut nilai-nilai etika:
Value of giving: 1. setia, dapat dipercaya, 2. hormat, 3. cinta, kasih sayang, 4. peka, tidak egois, 5. ramah, baik hati, 6. adil, murah hati.
Value of being: 1. jujur, 2. berani, 3. cinta damai, 4. potensi diri, 5. disiplin tahu batas, 6. murni dan suci.
3. Merunut Kepribadian Guru personal dan sosial versi PLPG:
1. Kedisiplinan (ketaatan, mengikuti tata tertib)
2. Penampilan (kerapian dan kewajiban)
3. Kesantunan berperilaku
4. Kemampuan bekerja sama
5. Kemampuan berkomunikasi
6. Komitmen
7. Keteladanan
8. Semangat
9. Empati
10. Tanggungjawab
4. Merunut Kepribadian Guru personal dan sosial versi UU no. 20/2003, UU 14/2005, PP 19/2005 dan PP 18/2007:
1. Akhlak Mulia
2. Arif dan bijak
3. Mantap
4. Wibawa
5. Stabil
6. Jujur
7. Teladan
8. Obyektif
9. Pengembangan diri
10. Terampil dalam komunikasi
11. Paham teknologi informasi
12. Gaul
13. Santun
14. Kooperatif
2.4.2. Hubungan profesionalisme guru, etika dan kepribadian
Untuk menjadi guru yang profesional harus memiliki beberapa hal yang harus dimiliki, apakah itu disebut komponen, apakah itu disebut kompetensi, apapun namanya boleh saja. Yang jelas berinti dan bermuara pada dua hal yaitu etika dan kepribadian. Dalam etika dan kepribadian terdapat rambu-rampu yang harus dimengerti bahkan harus pula dijalankan oleh seorang guru untuk mencapai keprofesionalannya.
Dengan kata yang sangat sederhana, guru tidak bisa mencapai keprofesionalannya tanpa melewati dan melaksanakan runutan etika dan kepribadian. Beretika dan berkepribadian, terlahirlah guru yang profesional.

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, maka dapat diberikan beberapa kesimpulan:
a. Etika dan kepribadian Profesi pengajar berkaitan dengan baik dan buruk perilaku pengajar baik itu dilingkungan institusi pendidikan ataupun dalam kehidupannya sehari – hari.
b. Dalam menentukan baik-buruk ini perlu disusun Kode Etik dan kepribadian, yang berfungsi juga sebagai salah satu ciri profesional sehingga akan lebih mementingkan interaksi sosial dari pada kepentingan individu.
c. Pekerjaan yang dapat dikatakan profesional sangat tergantung dari pandangan individu yang menjalaninya, dan kebanggaan profesional hanya dapat diciptakan oleh mereka yang berkaitan langsung.
d. Semakin peka etika dan kepribadian seorang guru lebih mudah memiliki rasa sosial terhadap obyek ataupun lingkungan sekitarnya. Inilah segi keprofesionalisme akan tumbuh dan berkembang baik.

3.2. Saran
Untuk mendapatkan suatu wujud peningkatan profesional guru yang sangat diperlukan pada saat ini, maka sudah selayaknya paradikma guru sebagai pentransfer ilmu dikembangkan lebih luas menjadi tidak hanya mentransfer ilmu saja tetapi juga sebagai pendidik yang profesional dengan beretika dan berkepribadian yang ideal. Sehingga untuk mawujudkan manusia yang beriman dan bertawa benar-benar dapt terwujud melalui dunia pendidikan.
Pemahaman etika dan kepribadian dalam profesi pengajar adalah sebagai upaya sebagai penunjang profesionalisme yang mana sangat memilikii arti pentinnya peran Guru dalam proses pendidikan menjadi sesuatu yang urgen karena terkait dengan tanggung jawab moral sebagai pendidik yang tentu dituntut profesionalismenya.

Peringkat I: Sukino-SMPN 1 Mondokan
Peringkat II: Sumardi-SMPN 1 Sumberlawang
Peringkat III: Edy Purnomo-SMPN 1 Karangmalang

PERINGKAT 1: SUKINO SMPN 1 MONDOKAN
PERINGKAT 2: SUMARDI SMPN 1 SUMBERLAWANG
PERINGKAT 3: EDY PURNOMO SMPN 1 KARANGMALANG

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.