Feeds:
Tulisan
Komentar

PENYESUAIAN DIRI REMAJA

PENYESUAIAN DIRI REMAJA
A. Konsep dan Proses Penyesuaian Diri
Hasil pendidikan individu terletak pada sejauh mana yang dipelajari dapat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat.
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu meyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri.

1. Pengertian penyesuaian diri
Berikut ini adalah pengertian penyesuaian diri:
1) Penyesuaian diri berarti adaptasi, baik untuk jasmaniah dan rohaniah.
2) Dapat juga diartikan konformitas atau berdasar standar atau prinsip.
3) Dapat juga diartikan sebagai penguasaan.
4) Dapat juga diartikan penguasaan dan kematangan emosional.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan.

2. Proses penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah proses. Proses bagaimana individu bisa mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan.
Penyesuaian yang sempurna merupakan sesuatu yang tidak pernah tercapai.Oleh karena itu penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat (lifelong process).
Respon, baik atau buruk, merupakan upaya individu untuk mereduksi atau mencapai keseimbangan yang lebih wajar.
Kebutuhan F A
R
Motivasi U
S Respon B Pemecahan
T bervariasi
Keinginan A
S C
I
Jadi dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri itu berhasil jika ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar, diterima lingkungan dan tidak menganggu/merugikan orang lain.

3. Karakteristik penyesuaian diri
Tidak semua individu berhasil dalam menyesuaiakn diri, dan banyak rntangannya, baik dari dalam maupun luar. Dan disina ada dua bentuk penyesuaian, yaitu positif dan salah.

a. Penyesuaian diri secara positif
Tanda-tanda penyesuaian diri secara positif:
1. Tidak menunjukkan ketegangan emosi.
2. Tidak menujukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis.
3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi.
4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
5. Mampu dalam belajar.
6. Menghargai pengalaman.
7. Bersikap realistic dan obyektif.

Bentuk-bentuk yang dilakukan antara lain:
1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung.
2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi.
3. Penyasuaian dengan trial and error atau coba-coba.
4. Penyesuaian dengan substitusi.
5. Penyesuaian dengan menggali kemampuan pribadi.
6. Penyesuaian dengan belajar.
7. Penesuaian dengan inhibisi dan pengenalan diri.
8. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.

b. Penyesuaian diri yang salah
Ini merupakan akibat dari kegagalan dalam penyesuaian secara positif.
Ada tiga bentuk reaksi, yaitu:
1. Reaksi bertahan (defence reaction), bentuknya:
- Rasional
- Represi
- Proyeksi
- Sour grapes
- Dsb.
2. Reaksi menyerang (aggressive reaction)
Untuk menutupi kegagalan maka easinya antara lain:
- Selalu membenarkan diri
- Mau berkuasa dalam setiap situasi
- Mau memiliki segalanya
- Senang menggagu orang lain
- Menggertak
- Menunjukan sika permusuhan
- Menyerang dan merusak
- Keras kepala
- Balas dendam
- Memperkosa hak orang lain
- Bertindak serampangan
- Marah secara sadis

3. Reaksi melarikan diri (escape reaction)
Reaksinya sebagai berikut:
- berfantasi
- banyak tidur
- minum minuman keras
- bunuh diri
- menjadi pecandu ganja, narkotika
- regresi

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri
Ada beberapa penentu, yaitu:
1. Kondisi-kondisi fisik
2. Perkembangan dan kematangan
3. Penentu psikologis, antara lain:
- pegalaman
- belajar
- determinasi diri
- konflik dan penyesuaian
4. Kondisi lingkungan, antara lain:
- pengaruh rumah dalam keluarga
- hubungan orang tua dan anak
- hubungan saudara
- masyarakat
- sekolah
5. Penentu cultural dan agama

B. Permasalahan-permasalahan Penyesuaian Diri Remaja
Diantara persoalan yang terpenting yang dihadapai remaja dalam penyesuaian diri yaitu:
Hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua.
Disini sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga (kondisi lingkunan keluarga)
OT yang otoriter akan menghambat perkembangan penyesuaian diri remaja, begitu juga perlindungan OT yang berlebihan juga berakibat tidak baik.
Perpindahan tempat juga memiliki pengaruh yang kuat.
Sekolah juga memiliki peranan/pengaruh yang kuat dalam dalam perkembangan jiwa remaja.

C. Implikasi Proses Penyesuaian Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Lingkungan sekolah sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa remaja, karena selain berfungsi sebagai pengajaran, sekolah juga berfungsi sebagai transformasi norma.
Dalam hal ini sekolah memiliki peranan yang tidak jauh dari keluarga, terutama wali kelas dan guru-guru BP.
Maka untuk tujuannya itu sekolah:
1. Menciptakan situasi “betah”.
2. Menciptakan suasana yng menyenangkan.
3. Memahami anak didik menyeluruh.
4. Menggunakan metode dan alat belajar yang menggairahkan.
5. Menggunakan prosedur evaluasi yang memotivasi belajar.
6. Ruangan kelas yang sehat.
7. Tata tertib yang dipahami.
8. Teladan dari para guru.
9. Kerja sama dan saling pengertian para guru.
10. Melaksanakan program BP yang baik.
11. Memiliki kepemimpinan yang penuh pengertian dan tanggung jawab.
12. Hubungan yang baik antara sekolah dan OT.

Karena guru adalah figure pendidik maka guru (pendapat Ryans dalam Garrison, 1956):
1. Memberi kesempatan (alert).
2. Ramah (cheerful)
3. Mampu mengontrol diri, tidak mudah kacau, dan teratur tindakannya.
4. Senang kelakar, dan humor.
5. Mengetahui dan mengakui kesalahannya.
6. Jujur dan obyektif thd siswa.
7. Pengertian dan simpati dengan siswa.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

PENYESUAIAN DIRI REMAJA

PENYESUAIAN DIRI REMAJA
A. Konsep dan Proses Penyesuaian Diri
Hasil pendidikan individu terletak pada sejauh mana yang dipelajari dapat membantunya dalam menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan pada tuntutan masyarakat.
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu meyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri.

1. Pengertian penyesuaian diri
Berikut ini adalah pengertian penyesuaian diri:
1) Penyesuaian diri berarti adaptasi, baik untuk jasmaniah dan rohaniah.
2) Dapat juga diartikan konformitas atau berdasar standar atau prinsip.
3) Dapat juga diartikan sebagai penguasaan.
4) Dapat juga diartikan penguasaan dan kematangan emosional.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai keharmonisan pada diri sendiri dan pada lingkungan.

2. Proses penyesuaian diri
Penyesuaian diri adalah proses. Proses bagaimana individu bisa mencapai keseimbangan diri dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan lingkungan.
Penyesuaian yang sempurna merupakan sesuatu yang tidak pernah tercapai.Oleh karena itu penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat (lifelong process).
Respon, baik atau buruk, merupakan upaya individu untuk mereduksi atau mencapai keseimbangan yang lebih wajar.
Kebutuhan F A
R
Motivasi U
S Respon B Pemecahan
T bervariasi
Keinginan A
S C
I
Jadi dapat disimpulkan bahwa penyesuaian diri itu berhasil jika ia dapat memenuhi kebutuhannya dengan cara-cara yang wajar, diterima lingkungan dan tidak menganggu/merugikan orang lain.

3. Karakteristik penyesuaian diri
Tidak semua individu berhasil dalam menyesuaiakn diri, dan banyak rntangannya, baik dari dalam maupun luar. Dan disina ada dua bentuk penyesuaian, yaitu positif dan salah.

a. Penyesuaian diri secara positif
Tanda-tanda penyesuaian diri secara positif:
1. Tidak menunjukkan ketegangan emosi.
2. Tidak menujukkan adanya mekanisme-mekanisme psikologis.
3. Tidak menunjukkan adanya frustasi pribadi.
4. Memiliki pertimbangan rasional dan pengarahan diri.
5. Mampu dalam belajar.
6. Menghargai pengalaman.
7. Bersikap realistic dan obyektif.

Bentuk-bentuk yang dilakukan antara lain:
1. Penyesuaian dengan menghadapi masalah secara langsung.
2. Penyesuaian dengan melakukan eksplorasi.
3. Penyasuaian dengan trial and error atau coba-coba.
4. Penyesuaian dengan substitusi.
5. Penyesuaian dengan menggali kemampuan pribadi.
6. Penyesuaian dengan belajar.
7. Penesuaian dengan inhibisi dan pengenalan diri.
8. Penyesuaian dengan perencanaan yang cermat.

b. Penyesuaian diri yang salah
Ini merupakan akibat dari kegagalan dalam penyesuaian secara positif.
Ada tiga bentuk reaksi, yaitu:
1. Reaksi bertahan (defence reaction), bentuknya:
- Rasional
- Represi
- Proyeksi
- Sour grapes
- Dsb.
2. Reaksi menyerang (aggressive reaction)
Untuk menutupi kegagalan maka easinya antara lain:
- Selalu membenarkan diri
- Mau berkuasa dalam setiap situasi
- Mau memiliki segalanya
- Senang menggagu orang lain
- Menggertak
- Menunjukan sika permusuhan
- Menyerang dan merusak
- Keras kepala
- Balas dendam
- Memperkosa hak orang lain
- Bertindak serampangan
- Marah secara sadis

3. Reaksi melarikan diri (escape reaction)
Reaksinya sebagai berikut:
- berfantasi
- banyak tidur
- minum minuman keras
- bunuh diri
- menjadi pecandu ganja, narkotika
- regresi

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri
Ada beberapa penentu, yaitu:
1. Kondisi-kondisi fisik
2. Perkembangan dan kematangan
3. Penentu psikologis, antara lain:
- pegalaman
- belajar
- determinasi diri
- konflik dan penyesuaian
4. Kondisi lingkungan, antara lain:
- pengaruh rumah dalam keluarga
- hubungan orang tua dan anak
- hubungan saudara
- masyarakat
- sekolah
5. Penentu cultural dan agama

B. Permasalahan-permasalahan Penyesuaian Diri Remaja
Diantara persoalan yang terpenting yang dihadapai remaja dalam penyesuaian diri yaitu:
Hubungan remaja dengan orang dewasa terutama orang tua.
Disini sangat dipengaruhi oleh sikap orang tua dan suasana psikologi dan sosial dalam keluarga (kondisi lingkunan keluarga)
OT yang otoriter akan menghambat perkembangan penyesuaian diri remaja, begitu juga perlindungan OT yang berlebihan juga berakibat tidak baik.
Perpindahan tempat juga memiliki pengaruh yang kuat.
Sekolah juga memiliki peranan/pengaruh yang kuat dalam dalam perkembangan jiwa remaja.

C. Implikasi Proses Penyesuaian Remaja terhadap Penyelenggaraan Pendidikan
Lingkungan sekolah sangat berpengaruh pada perkembangan jiwa remaja, karena selain berfungsi sebagai pengajaran, sekolah juga berfungsi sebagai transformasi norma.
Dalam hal ini sekolah memiliki peranan yang tidak jauh dari keluarga, terutama wali kelas dan guru-guru BP.
Maka untuk tujuannya itu sekolah:
1. Menciptakan situasi “betah”.
2. Menciptakan suasana yng menyenangkan.
3. Memahami anak didik menyeluruh.
4. Menggunakan metode dan alat belajar yang menggairahkan.
5. Menggunakan prosedur evaluasi yang memotivasi belajar.
6. Ruangan kelas yang sehat.
7. Tata tertib yang dipahami.
8. Teladan dari para guru.
9. Kerja sama dan saling pengertian para guru.
10. Melaksanakan program BP yang baik.
11. Memiliki kepemimpinan yang penuh pengertian dan tanggung jawab.
12. Hubungan yang baik antara sekolah dan OT.

Karena guru adalah figure pendidik maka guru (pendapat Ryans dalam Garrison, 1956):
1. Memberi kesempatan (alert).
2. Ramah (cheerful)
3. Mampu mengontrol diri, tidak mudah kacau, dan teratur tindakannya.
4. Senang kelakar, dan humor.
5. Mengetahui dan mengakui kesalahannya.
6. Jujur dan obyektif thd siswa.
7. Pengertian dan simpati dengan siswa.

Comments RSS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: